Apa Itu Fesmed Selat Malaka 2026
Festival Media (Fesmed) Selat Malaka adalah kegiatan yang dirancang sebagai platform kolaborasi strategis yang mempertemukan insan pers, media, masyarakat sipil, aktivis, akademisi, komunitas lokal, mahasiswa hingga pemangku kepentingan.
Festival ini memadukan banyak kegiatan seperti seminar dan sebaigainya. Yang mana, media tidak diposisikan hanya sebagai penyampai informasi, tetapi sebagai aktor pembangunan sosial, lingkungan, dan demokrasi .
Seminar Nasional dan Internasional
Dialog Masyarakat
Bazar
Pentas Seni dan Budaya
Lokakarya Peningkatan Kapasitas dan Konsolidasi Lintas Jaringan
Tonggak Sejarah
Festival Media (Fesmed) adalah agenda tahunan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) yang telah diadakan sejak 2012. Berikut beberapa tonggak sejarah Fesmed di berbagai daerah di Indonesia.

📍 Gedung Indonesia Menggugat

📍 Gedung Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjosumantri Universitas Gadjah Mada

📍 Jatim Expo International

📍 Universitas Atma Jaya

📍 Perpustakaan Soeman HS

📍 Graha Soloraya

📍 Rumah Radakng

📍 Aula Balai Diklat Provinsi Jambi
📍 Perpustakaan Soeman HS

📍 Benteng Ujung Pandang
Penyelenggara
Fesmed Selat Malaka
Fesmed Selat Malaka diselenggarakan oleh
AJI Indonesia, AJI Kota Batam & AJI Kota Tanjungpinang
Aliansi Jurnalis Independen (AJI) adalah organisasi jurnalis nasional yang berdiri sejak 7 Agustus 1994, lahir dari perjuangan kebebasan pers dan hak publik atas informasi. Selama lebih dari 30 tahun, AJI secara konsisten mendorong jurnalisme independen, profesional, dan berpihak pada kepentingan publik.
Fesmed Selat Malaka 2026 merupakan bagian dari rangkaian agenda AJI Nasional tersebut, dengan konteks lokal Selat Malaka yang strategis sebagai jalur perlintasan informasi, budaya, dan ekonomi.
Acara ini direncanakan akan dihadiri oleh perwakilan AJI dari berbagai provinsi di Indonesia, pengurus nasional AJI, jurnalis media nasional dan lokal, serta mitra lintas sektor.
Kenapa Selat Malaka Penting?
Selat Malaka merupakan salah satu jalur pelayaran tersibuk dan paling strategis di dunia yang menghubungkan Samudra Hindia dan Laut Cina Selatan. Kawasan ini tidak hanya menjadi simpul perdagangan global, tetapi juga ruang pertemuan peradaban, budaya,migrasi, serta pertukaran ide lintas bangsa.
Batam dan Tanjungpinang, sebagai wilayah yang berhadapan langsung dengan Selat Malaka, berada di titik depan arus global tersebut. Wilayah ini tidak hanya menghadapi isu kejahatan transnasional seperti perdagangan orang, narkoba, penyelundupan, dan illegal fishing, tetapi juga persoalan yang jauh lebih luas dan struktural.
Pulau-pulau kecil di Kepulauan Riau menghadapi ancaman serius akibat perubahan iklim, abrasi, kenaikan muka air laut, eksploitasi sumber daya alam, pertambangan, serta dampak pembangunan Proyek Strategis Nasional (PSN) yang mengubah ruang hidup masyarakat pesisir dan adat.
Di saat yang sama, kawasan ini juga menyimpan potensi besar: ekonomi biru, transisi energi, pariwisata berkelanjutan, kebudayaan maritim, diplomasi kawasan, dan penguatan masyarakat pesisir.
Selat Malaka dengan demikian bukan hanya ruang risiko, tetapi juga ruang masa depan. Ruang hidup yang mempertemukan tantangan global dan peluang pembangunan berkelanjutan.
Tujuan Fesmed Selat Malaka
Bukan tanpa tujuan, Fesmed Selat Malaka dibuat untuk berbagai maksud, di antaranya:
