Skip to content Skip to footer

AJI Tanjungpinang Matangkan Persiapan Fesmed Selat Malaka di Pulau Penyengat

TANJUNGPINANG – Persiapan pelaksanaan Festival Media (Fesmed) Selat Malaka 2026 di Pulau Penyengat terus dimatangkan. Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Tanjungpinang mulai menyusun berbagai kebutuhan teknis untuk memastikan rangkaian kegiatan di pulau bersejarah tersebut berjalan maksimal.

Pulau Penyengat akan menjadi salah satu lokasi utama pelaksanaan Fesmed Selat Malaka 2026 yang digelar pada 19–21 September 2026 di Batam dan Tanjungpinang. Khusus di Tanjungpinang, agenda puncak festival akan dipusatkan di Pulau Penyengat pada 21 September 2026.

Ketua AJI Tanjungpinang, Sutana, mengatakan pihaknya saat ini terus melakukan koordinasi dan persiapan untuk rangkaian kegiatan yang akan digelar di Pulau Penyengat, mulai dari lokasi acara, konsep kegiatan, hingga keterlibatan berbagai pihak.

“Persiapan terus kami lakukan agar pelaksanaan kegiatan di Pulau Penyengat dapat berjalan baik. Kami ingin peserta yang datang tidak hanya mengikuti kegiatan festival, tetapi juga mengenal sejarah dan nilai penting pulau ini bagi perkembangan intelektual Melayu,” kata Sutana.

Menurut dia, pemilihan Pulau Penyengat sebagai lokasi sarasehan bukan sekadar pertimbangan wisata, tetapi memiliki hubungan kuat dengan sejarah perkembangan ilmu pengetahuan, budaya Melayu, dan tradisi pers di Kepulauan Riau.

“Pulau Penyengat memiliki nilai sejarah yang luar biasa. Dari pulau kecil inilah lahir banyak pemikiran besar yang menjadi fondasi kebudayaan Melayu sekaligus turut membentuk perkembangan bahasa Indonesia,” ujarnya.

Pulau Penyengat merupakan bekas pusat pemerintahan Kesultanan Riau-Lingga yang memiliki pengaruh besar dalam perkembangan peradaban Melayu. Pada 1895, pulau ini juga menjadi tempat berdirinya Rusydiah Klub, sebuah perkumpulan intelektual yang dikenal sebagai salah satu tonggak tradisi menulis, diskusi ilmu pengetahuan, dan pemikiran kritis di kawasan Melayu.

Keberadaan Rusydiah Klub menjadi salah satu alasan kuat menghadirkan Fesmed di Pulau Penyengat. Momentum tersebut dinilai relevan dengan semangat pers yang mengedepankan kebebasan berpikir, penyebaran pengetahuan, dan kepentingan publik.

“Pelaksanaan Fesmed di Penyengat kami sebut sebagai pertemuan antara sejarah dan masa depan pers Indonesia. Dahulu pulau ini menjadi tempat lahirnya tradisi intelektual, dan hari ini kami ingin menghadirkan ruang dialog tentang masa depan media dan kebebasan pers,” kata Sutana.

Sekretaris Panitia Festival Media Selat Malaka 2026, Kurnia Syaifullah, mengatakan rangkaian kegiatan di Pulau Penyengat akan difokuskan pada dua agenda utama, yakni Focus Group Discussion (FGD) dan sarasehan AJI Kota se-Indonesia.

Menurutnya, sarasehan tersebut menjadi salah satu agenda penting dalam memperkuat jaringan dan solidaritas antarjurnalis dari berbagai daerah di Indonesia.

Selain itu, FGD di Pulau Penyengat juga diarahkan untuk merumuskan gagasan dan rekomendasi bersama terkait upaya mendorong Pulau Penyengat sebagai Situs Warisan Budaya Dunia UNESCO.

“FGD ini akan melibatkan AJI, insan pers, organisasi masyarakat sipil, akademisi, komunitas budaya, serta pemerintah daerah untuk membahas langkah strategis penguatan nilai sejarah dan budaya Pulau Penyengat,” ujarnya.

Dorongan menjadikan Pulau Penyengat sebagai warisan dunia UNESCO didukung oleh kekayaan warisan budaya yang dimiliki pulau tersebut, baik berupa warisan benda seperti situs dan bangunan bersejarah maupun warisan tak benda berupa tradisi intelektual dan karya sastra Melayu.

Salah satu tokoh penting yang menjadi bagian dari sejarah Pulau Penyengat adalah Raja Ali Haji. Melalui karya-karyanya seperti Gurindam Dua Belas, Kitab Pengetahuan Bahasa, dan Tuhfat al-Nafis, Raja Ali Haji memberikan kontribusi besar terhadap perkembangan bahasa Melayu yang kemudian menjadi salah satu fondasi bahasa Indonesia.

Kurnia mengatakan, pelaksanaan Fesmed Selat Malaka 2026 diharapkan tidak hanya menjadi agenda berkumpulnya insan pers, tetapi juga menjadi ruang promosi sejarah dan kebudayaan Kepulauan Riau kepada peserta dari berbagai daerah.

Festival ini diperkirakan akan diikuti perwakilan AJI dari sekitar 40 kota di Indonesia, mulai dari Aceh hingga Papua, serta akademisi, mahasiswa, organisasi masyarakat sipil, komunitas budaya, lembaga nonpemerintah, dan masyarakat umum.

Melalui pelaksanaan Fesmed di Pulau Penyengat, AJI berharap festival ini dapat menjadi ruang pertemuan antara sejarah, kebudayaan, dan masa depan jurnalisme Indonesia, sekaligus memperkuat posisi Kepulauan Riau sebagai salah satu pusat pemikiran dan kebudayaan Melayu. (*)

Festival Media Selat Malaka
dirancang sebagai platform kolaborasi
strategis yang mempertemukan insan pers,
media, masyarakat sipil, aktivis, akademisi,
komunitas lokal, mahasiswa hingga
pemangku kepentingan.

Kantor AJI Indonesia

Jl. Kembang Raya No.6 Kwitang, Senen, Jakarta Pusat 10420

Hubungi Kami

Muhammad Islahuddin
(AJI Batam)

Endra Kaputra
(AJI Tanjungpinang)

Fesmed Selat Malaka, All rights reserved.